RODABALAP.COM – Bicara bebek canggih Yamaha 125Z underbone two stroke di eranya. Secara basis mesin tegak yang memiliki keuntungan jika dibandingkan dengan bebek yang mesin tidur. Inersia pada gerak maju-mundur piston lebih ringan gesekkannya.
Begitu didongkrak tidak perlu main bore-up atau stroke-up. Tinggal tambah 5 cc sesuai tingkat penggantian piston aslinya, sudah sama dengan aturan yang diterapkan. Lebih dari itu ya didiskualifikasi.
Macam motor yang membela tim Bosesi Racing Team Papua tunggangan Syahrul Amin, peraih podium pertama kelas Bebek 2 Tak 130cc Underbone, babak final Kejurnas Motorprix Regional D di sirkuit Soprt Center Polewali Mandar, Sulawesi Barat (23-25 September), dengan spesifikasi diameter silinder 53,8 mm dan stroke 54,7 mm. Kapsitas bersihnya 124,3 cc.

Seperti dibilang tadi, AB Bendol selaku mekanik melakukan perubahan sedikit pada lubang transfer dan bilas. Tapi lubang-lubangnya mengarah pada satu titik yang namanya squis. Karena di situlah uap pembakaran akan dijepit dan diantar ke kubah head. Itu artinya setelah diledakkan di ruang bakar, gas yang telah terbakar akan cepat dibuang.
Dengan dukungan membran V Force 3, yang memiliki efektifitas tinggi di jalur pemasukan bahan-bakar. Termasuk lagi, proses pembakaran di ruang bakar juga didukung pengapian set dari kudabesi Special Engine (SE) Yamaha YZ 85.

“Motornya sudah sesuai dengan gaya balap Syahrul Amin yang sukanya gas spontan. Berbeda dengan Yamaha 125Z tunggangan Wawan Wello, dia sukanya nahan rpm,’’singkat Bensol yang menyebut kompresi jadi 6.2:1 dengan hasil buret 12.1 cc.
Untuk port-exhaustnya alias lubang buanya diplot pada angka 27 mm diukur dari bibir silinder, sedangkan perbandingan final-gearnya naik-turun 1-2 mata dari angka 13-46. Ini disesuaikan dengan kondisi trek dan kemauan pembalap. Jadi pahamkan perbedaa tipisnya. Soal knalpot, jelas dong semua pakai ABRT20 Muffler. D 14 N









