RODABALAP.COM ; Kejuaraan balap motor khusunya road race aka selalu bergerak dinamis. Dalam artian settingan motor juga tak ada matinya, riset terus. Kalah hari ini, besok dilawan. Menang hari ini, hati-hati besok kalah. Seperti di event Java Grand Prix (JGP) Boyolali, beberapa waktu yang lalu. Jadi tempat bertemunya para para pembalap dan mekanik dari berbagai daerah. Maklum saja ini event menjadi salah satu barometernya kejuaraan balap motor di Jawa.
Nach, untuk mencermati dan mengatasi segala macam problem pada motor, serta persiapan menyambut kompetisi selanjutnya. Bertemulah tiga punggawa diantaranya Diaz Bramantyo Wibowo Magelang, Om Yayan (AMS) Semarang dan Ragil Lenzabi Probolinggo. Dengan tujuan saling sharing pengalaman oprek motor.
‘’ Ragil Lenzabi jatuh cinta alias kecantol sama DTRT saat pelaksanaan road race di Magetan kemarin. Beberapa hari kemudian datanglah Om Yayan dan Ragil Lenzabi ke Magelang. Disini kita saling tukar pikiran, bikin motor yang jos itu seperti apa. Pada intinya kita tidak monoton mengaku mesin itu garapan sendiri,’’buka Diaz Bramantyo Wibowo owner Diaz Trail Racing Team (DTRT).
Bagi yang belum faham DTRT merupakan speed shop beralamat di Desa Mejing 5a, RT:13 RW:05, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (Samping lapangan sepak bola Ds. Mejing) yang menyediakan segala keperluan buat balap dan harian.
Sipnya, ketiga owner tim mendaulat pembalap sebagai tester performa mesin pada level akselerasi dan top speed, dengan tolak ukur performa bebek 2 tak standart 116 cc dan bebek 2 tak125cc standart, jadi tinggal bergeser mencermati urusan durabilitynya. Itu artinya, transfer ilmu jadi makin singkat, gaya mengumpan power dan speed, makin mudah direalisasi bahkan dikembangkan oleh mereka.
‘’Dari pertemuan tiga tim ini, masing-masing mendapat ilmu tambahan. Untuk pertemuan awal kita sepakat di DTRT. Sebab fasilitanya lengkap mulai dari mesin bubut, milling dan dyno kita punya,’’imbuh Diaz Bramantyo Wibowo.
So, bikin penasaran saja. Mengutip pernyataan beliau sebelumnya kencang dan bisa naik podium itu butuh proses. Mulai dari lambat, perlahan kencang, kemudian kencang, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. D 14 N
